Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia. Nomor Koleksi 1567185. Istana : Presiden
menyaksikan pertunjukan ludruk Marhaen di istana negara. Khastara. Diakses
18 Juli 2026, dari Khastara Perpusnas
Seni
pertunjukan bukan sekadar hiburan di atas panggung, melainkan sebuah medan
tempur ideologi yang sangat dinamis dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Di Jawa
Timur, kesenian Ludruk pernah menjadi instrumen vital dalam membangun hegemoni.
Seni rakyat yang tadinya hanya berfungsi sebagai hiburan kemudian dipoles
menjadi media indoktrinasi ideologi yang sangat terarah. Narasi panggung
tersebut secara perlahan menyusup ke dalam kesadaran moral masyarakat bawah
untuk membentuk kesetiaan politik tertentu. Antara tahun 1950 hingga 1966,
Ludruk bertransformasi dari sekadar kesenian rakyat menjadi media penyebaran
kesadaran politik yang masif bagi masyarakat bawah.
Akar
kesenian ini sebenarnya bermula dari tradisi Lerok yang digagas oleh Pak Santik
di Jombang pada tahun 1907, yang sejak awal membawa nafas kritik sosial dan
kedekatan dengan penderitaan rakyat (Santoso & Hermawan, 2026, 5-6). Namun,
pasca-kemerdekaan dan memasuki era Demokrasi Liberal tahun 1950-an, stabilitas
politik memberikan ruang bagi Ludruk untuk berkembang lebih jauh dari sekadar
hiburan rakyat biasa (Santoso & Hermawan, 2026, 14). Pada masa transisi
ini, Ludruk mulai diakomodasi sebagai alat pendidikan sosial dan media
perjuangan ideologis yang sangat efektif (Ismawati & Pamungkas, 2017, 42).
Puncak
politisasi Ludruk terjadi melalui peran organisasi kebudayaan seperti Lembaga
Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang memiliki keterkaitan kuat dengan kekuatan sayap
kiri. LEKRA menerapkan prinsip politik sebagai panglima yang menekankan bahwa
seni harus berpihak pada rakyat pekerja dan menjadi senjata utama untuk melawan
segala bentuk penindasan (Santoso & Hermawan, 2026, 15-16). Salah satu
kelompok yang paling menonjol pada masa ini adalah Ludruk Marhaen di Surabaya,
yang meski namanya mengambil istilah dari Presiden Soekarno, secara ideologis
memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan visi kebudayaan progresif (Santoso
& Hermawan, 2026, 12-14).
Negara
dan kekuatan politik memanfaatkan elemen-elemen teknis dalam Ludruk untuk
membentuk kesadaran massa, salah satunya melalui lakon atau cerita yang
ditampilkan. Pertunjukan tidak lagi berkisar pada legenda usang, melainkan
mengangkat realitas sosial yang tajam seperti lakon tanah untuk rakyat atau rakyat
lawan rentenir yang digunakan untuk memprovokasi kesadaran kelas petani
terhadap ketimpangan agraria (Santoso & Hermawan, 2026, 18). Selain lakon,
parikan atau kidungan khas Ludruk diisi dengan pesan-pesan politik yang sangat
efektif karena mampu menarik simpati masyarakat luas, bahkan bagi mereka yang
belum melek huruf sekalipun (Ismawati & Pamungkas, 2017, 77-78).
Penggunaan
simbol-simbol di atas panggung juga mempertegas identitas ideologis yang ingin
ditanamkan kepada penonton. Simbol perjuangan rakyat seperti cangkul, caping,
hingga lambang palu dan sabit kerap ditampilkan sebagai penegasan posisi
politik kelompok tersebut di hadapan massa (Santoso & Hermawan, 2026, 17).
Narasi pertunjukan ini sering kali diakhiri dengan distribusi selebaran
kampanye atau orasi politik singkat, yang menjadikan seniman Ludruk berperan
ganda sebagai aktor panggung sekaligus aktor politik (Santoso & Hermawan,
2026, 18-20).
Memasuki
masa Demokrasi Terpimpin, hegemoni negara semakin menguat di bawah kepemimpinan
Presiden Soekarno yang menekankan pentingnya identitas nasional melalui seni.
Ludruk tidak lagi hanya menjadi alat partai, tetapi menjadi instrumen resmi
negara untuk menyebarkan gagasan Nasakom dan semangat anti-imperialisme (Fauzi
dkk., 2024, 185). Kelompok Ludruk mendapatkan dukungan kultural untuk tampil dalam
acara-acara resmi kenegaraan, seperti peringatan hari buruh atau pekan seni
nasional, yang secara efektif menjadikan seni ini sebagai alat ideologisasi
massa (Santoso & Hermawan, 2026, 19).
Namun, perjalanan hegemoni melalui panggung Ludruk ini menemui titik baliknya setelah peristiwa politik besar pada tahun 1965. Karena identitasnya yang telah melekat kuat dengan organisasi seperti LEKRA, banyak kelompok Ludruk yang akhirnya dibubarkan atau dilarang pementasannya oleh rezim yang baru (Ismawati & Pamungkas, 2017, 61-62). Sejarah Ludruk pada periode 1950–1966 ini memberikan gambaran jelas bahwa kebudayaan adalah pilar penting dalam kekuasaan, di mana humor dan tarian dapat menjadi sarana yang sangat kuat untuk mengarahkan kesadaran dan loyalitas masyarakat terhadap ideologi tertentu.
Daftar Pustaka
Fauzi, A. F., Laksono, A. D., & Ababyil, C. B. (2024). Sejarah
Perkembangan Industri Perfilman di Indonesia pada Masa Revolusi (1945-1949) dan
Orde Lama (1945-1966). Makalah. Bandung: Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam,
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati.
Ismawati, & Pamungkas, J. H. (2017). Sejarah Kesenian Ludruk Karya
Budaya Mojokerto Tahun 1969 – 2009. AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah,
5(3).
Santoso, R. M. F., & Hermawan, E. S. (2026). Peranan Ludruk
Marhaen Dengan Politik Pada 1950-1960. AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah.
PENULIS: Saskia Devi Aulia
Social Footer