Aku mencintaimu, Ibu
Bukan dengan tepuk tangan
Melainkan dengan kata yang berani menyentuh tulang

Cintaku tidak dibungkus seremoni
Ia lahir dari dapur yang berasnya ditakar
Dari kelas yang kursinya reyot
Dari guru yang ilmunya tinggi
Namun hidupnya dipaksa sabar

Janji disusun seperti etalase
Mengilap, rapi, dan mudah dijual
Anak-anakmu diberi piring kebijakan
Namun buku-buku dipereteli
Seolah masa depan bisa tumbuh Tanpa akar akal

Guru-guruku dipuja dalam pidato
Namun diperas dalam anggaran
Mereka diminta mencetak generasi
Sambil menghitung sisa gaji untuk bertahan

Di tubuhmu yang hijau, Ibu
Hutan dipreteli jadi peta izin
Adat dipinggirkan dari sejarah hidupnya sendiri
Diganti barisan sawit dan tebu
Yang rakus dan patuh pada mesin

Energi diteriakkan sebagai masa depan
Pembangunan dipuja sebagai iman
Namun tanah dirampas dari ingatan
Dan luka diwariskan tanpa kompensasi kemanusiaan

Aku mencintaimu, Ibu
Dengan diksi yang tidak jinak
Sebab cinta yang lunak pada ketidakadilan
Adalah pengkhianatan yang sopan

Biarlah suaraku mengganggu
Retak di telinga kuasa
Aku setia
Namun tidak bersumpah untuk bisu
Karena mencintaimu
Berarti melawan saat engkau dilukai

Oleh : Dwi Ramadhanti