Revolusi Amerika yang terjadi pada tahun 1775-1783 menjadi salah satu peristiwa yang menentukan dalam sejarah modern. Peristiwa ini menandai lahirnya negara baru yakni Amerika Serikat yang berada di Benua Amerika. Revolusi Amerika dilatar belakangi oleh keinginan untuk mendapatkan kemerdekaan dari belenggu penjajahan Inggris. Hal ini dikarenakan akibat kebijakan yang diterapkan oleh Inggris yang mengharuskan rakyat membayar pajak dengan harga yang tinggi, serta kebijakan kebijakan lainnya yang dianggap menindas dan membebani rakyat Amerika.
Puncaknya yakni saat slogan mengenai “No Taxation Without Representation” muncul yang mencerminkan tuntutan rakyat Amerika akan hak politik dan kedaulatan mereka di dalam negara. Sebelum pecahnya peristiwa Revolusi Amerika yang terjadi pada akhir abad ke-18, gerakan-gerakan perlawanan terhadap kebijakan yang diterapkan oleh kolonial Inggris tidak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki seperti yang sering dibahas dan dimunculkan dalam catatan sejarah, tetapi juga terdapat kaum perempuan yang turut memainkan peranan yang penting dalam membangun kesadaran politik masyarakat kolonial dan memperjuangkan kemerdekaan negara.
Daughters of Liberty merupakan salah satu kelompok perempuan yang terlibat aktif dalam berbagai aksi untuk memperjuangkan kemerdekaan. Perlawanan yang dilakukan oleh kaum perempuan bukan menggunakan persenjataan seperti kaum laki-laki, namun kaum perempuan ini dalam aksinya lebih mengarah kepada kegiatan aksi boikot penggunaan barang-barang yang berasal dari Inggris, misalnya teh, kain dan produk rumah tangga lainnya.
Melalui aksi pemboikotan tidak membeli barang-barang Inggris dan beralih ke produksi lokal, perempuan mampu mengubah rumah tangga kolonial menjadi pusat perlawanan ekonomi. Peran perempuan dalam gerakan ini menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya melalui tindakan yang berbentuk pidato, pamflet dan juga pertempuran fisik yang dilakukan oleh kaum laki-laki. Namun ternyata perjuangan juga bisa melalui tindakantindakan yang bersifat di ruang domestik. Hal ini menunjukkan perempuan juga dapat berkontribusi dalam memperjuangkan kemerdekaan dan menuntut hak-hak tanpa harus melanggar norma gender yang berlaku.
Kedudukan Awal Perempuan Amerika Serikat
Kaum Perempuan dalam struktur masyarakat Amerika memiliki kedudukan yang masih berada dalam struktur yang patriarki. Sistem patriarki menempatkan aktivitas perempuan dibedakan secara jelas dibandingkan dengan aktivitas laki-laki. Kaum laki-laki memegang kekuasaan tertinggi dan memiliki dominasi peran dalam kepemimpinannya, sementara kaum perempuan ditempatkan dalam ranah domestik, sehingga segala yang mengenai urusan rumah tangga merupakan tugas dari perempuan, hal ini mencakup mengenai tugas rumah tangga, mengurus anak, menjahit, serta mendukung pekerjaan suami.
Kaum perempuan pada saat itu, ketika menjadi anak harus mempelajari semua urusan rumah tangga, dan setelah menikah akan melebur identitasnya ke dalam suaminya. Akibatnya, perempuan disini tidak memiliki hak untuk memiliki properti secara mandiri bahkan jika properti tersebut diperoleh atas usahanya sendiri, serta tidak berhak terlibat dalam pengambilan keputusan politik.
Setelah kedatangan bangsa Eropa ke wilayah Amerika, terjadi perubahan mengenai susunan masyarakat Amerika. Bangsa Eropa mulai menikahi perempuan-perempuan Amerika guna mencari tahu dan memanfaatkan pengetahuan, keterampilan dan juga tenaga mereka. Bahkan tidak jarang juga pria Eropa menerapkan sistem poligami untuk memanfaatkan tenaga anak-anak hasil poligami untuk sebagai pekerja yang mengelola bisnis yang pria Eropa miliki. Jika dirasa, para pria Eropa ini harus kembali tanah asalnya, mereka tidak keberatan meninggalkan istrinya dan anak-anaknya begitu saja tanpa sepersen harta sekalipun.
Hal ini dialami juga oleh para perempuan berkulit putih yang ada di Amerika. Para perempuan ini juga tunduk kepada peraturan-peraturan yang bahkan tidak masuk akal, misalnya harus tetap berada dirumah untuk mengurus berbagai pekerjaan yang ada dirumah dan juga pada saat itu tempat-tempat umum, seperti kedai, balai hanya terbuka untuk kaum laki-laki dan tidak mengizinkan perempuan untuk masuk kedalamnya. Struktur sosial yang patriarki sangat mengekang perempuanperempuan pada saat itu, sehingga ruang domestik menjadi ruang untuk mengekspresikan keyakinan dan ketakutan mereka.
Perempuan Menjelang dan Pada Saat Terjadinya Revolusi Amerika
Tidak hanya sebagai panggung bagi prajurit dan pemimpin laki-laki, Revolusi Amerika juga melibatkan kaum perempuan dalam berbagai bentuk kontribusi perjuangan. Pada awalnya kaum perempuan tidak memiliki kedudukan politik dan juga terdapat sistem sosial yang membatasi perempuan dalam ruang politik. Perempuan memiliki tugas untuk mendukung kaum laki-laki dalam hidup mereka, baik itu sebagai ayah, suami, maupun saudara laki-laki. Pekerjaan mengenai segala urusan rumah merupakan tugas utama perempuan pada saat itu, yang nantinya mendukung dalam memajukan perjuangan kemerdekaan Amerika.
Menjelang Revolusi Amerika merupakan masa yang dimana meningkatnya kekerasan-kekerasan yang dialami rakyat Amerika. Berbagai kebijakan yang diterapkan oleh kolonial Inggris sangat menimbulkan ketidakpuasan karena membebani rakyat, selain mengenai masalah perpajakan dengan harga yang tinggi dan terdapat aturan yang membatasi ekspansi ke wilayah barat, terdapat juga Undang Undang lain, misalnya Sugar Act dan Stamp Act. Adanya Stamp Act yang disahkan, membuat banyak warga Amerika memprotes undang-undang tersebut, sehingga mereka mendirikan kelompok yang bernama Son of Liberty. Son of Liberty ini berupaya untuk mengakhiri pajak dan melindungi hak-hak kolonis Amerika.
Setelah keputusan para Pemimpin Amerika pada saat itu menggunakan metode boikot ekonomi pada saat melawan koloni Inggris dikeluarkan, peran domestik ini menjadi lebih signifikan secara politik. Pada awalnya kontribusi kaum perempuan yang menggunakan ruang domestik ini diragukan oleh kaum laki-laki apalagi pada saat itu masih kental sekali mengenai sistem patriarki dalam kehidupan masyarakat, namun seiringnya penggunaan taktik melalui domestik memperlihatkan hasil yang cukup signifikan. Peran perempuan dalam hal ini menolak membeli barang impor yang berasal dari Inggris dan juga meningkatkan produksi kain tenun mereka sendiri untuk dijadikan bahan baju, celana dan lain sebagainya.
Daughters of Liberty selama Perang Revolusi terdiri dari kaum perempuan, yakni ibu, istri, anak perempuan dan saudara perempuan. Mereka dalam hal ini bertugas untuk membantu sebagai juru masak, perawat, tukang cuci, menjahit, dan bahkan mata-mata. Daughters of Liberty juga dikenal dengan aksinya yang memboikot teh Inggris setelah adanya pengesahan Undang Undang Teh (Tea Act) disahkan. Hal ini dibuktikan melalui penandatangan petisi yang dikenal dengan Edenton Tea Party, yang berbunyi:
We, the aforesaid Ladys will not promote ye wear of any manufacturer from England until such time that all acts which tend to enslave our Native country shall be repealed.
Petisi ini ditandatangani sebanyak 51 perempuan yang berada di daerah Carolina Utara pada tahun 1774. Adanya penandatangan petisi ini, menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya sebuah kelompok perempuan mengambil langkah yang nyata ke dalam dunia politik. Setelah penandatangan petisi ini, Daughters of Liberty mengirimkan petisi ke surat kabar London dengan harap petisi tersebut dicetak dan Inggris memperhatikannya.
Aksi pemboikotan barang Inggris ini meningkatkan kebutuhan akan barang-barang produksi dalam negeri, seperti banyaknya permintaan penenunan, pemintalan dan penjahitan. Hal ini membuat kaum perempuan, salah satunya yang berada di Boston berkumpul di Commons dengan roda pemintal untuk menghabiskan hari dengan memintal benang yang menghasilkan sekitar 40.000 gulungan benang.
Ketika Perang Revolusi meletus pada tahun 1775, para kaum perempuan semakin banyak melakukan hal-hal yang mendukung perjuangan. Meletusnya Perang Revolusi, Amerika membentuk Tentara Kontinental dibawah pimpinan Washington untuk melawan Inggris sehingga hal ini menyebabkan para pemuda harus meninggalkan pertanian dan bisnis mereka untuk bergabung menjadi tentara. Para perempuan yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan pertanian mengambil alih pekerjaan yang dilakukan oleh kaum laki-laki, sehingga para perempuan disini tidak hanya untuk menghidupi keluarga, tetapi juga menyediakan pembekalan/bahan pangan untuk pasukan yang berjuang. Selain bahan pangan, para perempuan ini juga membuatkan baju dari tenunan mereka sendiri untuk para tentara-tentara yang sedang berjuang.
Pada saat Perang Revolusi berlangsung, banyak perempuan yang memilih untuk mengikuti suami ketika berperang, bahkan juga ada yang membawa beserta anakanaknya, hal ini dikenal dengan nama pengikut camp. Para perempuan pengikut camp ini tidak hanya serta merta mengikuti suaminya berperang, tetapi juga para perempuan disini juga memainkan peran yang penting. Para perempuan ini diberikan gaji sebagai juru masak, tukang cuci dan juga perawat, dan bahkan juga bertugas yang membawakan air ke medan perang. Terdapat sekitar 20.000 perempuan pengikut camp yang meringankan beban tentara dalam melakukan tugas disamping perang, yakni urusan rumah tangga.
Selain berperan dalam urusan yang masih dalam lingkup domestik, terdapat juga perempuan pemberani pada saat Perang Revolusi berperan sebagai mata-mata untuk membantu para jenderal dalam menguping mengenai strategi yang akan dilakukan oleh pihak Inggris, salah satunya adalah Lydia Darragh yang berasal dari Philadelphia. Darragh terkadang mendengarkan perwira Inggris yang sedang mendiskusikan mengenai rencana untuk menyerang Pasukan Kontingental. Ia menuliskan informasi pada selembar kertas yang diselipkan dalam kancing berlapis kain pada pakaian putranya yang nantinya akan diserahkan kepada Jenderal Washington saat melakukan perjalanan ke luar kota menuju camp Amerika. Sehingga melalui mata-mata ini memudahkan untuk Pasukan Kontinental dalam merancang strategi yang bisa mengalahkan pasukan Inggris.
DAFTAR PUSTAKA:
Arifin, F. (2012). Peranan George Washington dalam Perang Kemerdekaan AmerikaSerikat pada tahun 1775-1783. factum, 287.
Burgan, M. (2005). Great Women Of The American Revolution. Compass Point Books.
Hoffman, R., & Albert, P. J. (Eds.). (1989). Women In The Age Of The American Revolution. University Press Of Virginia.
Indaryadi, V. Y. (2022). Elizabeth Cady Stanton (1815-1902) Dalam Perjuangan Jati DiriPerempuan Amerika. Historia Vitae, 2(1), 18-30.
Norton, M. B. (1980). Liberty’s Daughters: The Revolutionary Experience Of American Women, 1750–1800. Little, Brown And Company.
Ramsay, D. (1990). The history of the American Revolution (Vol. 1; L. H. Cohen, Ed.).Indianapolis: Liberty Fund.
Trenner, K. (2016). Daughters Of Liberty: The Women Who Fought In The American Revolution. The Saber And Scroll Journal, 5(3).
Penulis: Alya Nuriaski Safira
Social Footer